LAMPUNG - Setelah dua bulan sebelumnya mengalami deflasi, pada Maret 2015 ini Kota Bandar Lampung mengalami inflasi sebesar 0,48 persen. Dalam penjelasannya, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung Adhi Wiriana mengatakan, inflasi Kota Bandar Lampung pada Maret 2015 sebesar 0,48 persen ini masih lebih tinggi dbandingkan inflasi nasional sebesar 0,17 persen.
Dijelaskan, ada lima kelompok pengeluaran yang memberikan andil inflasi di Kota Bandar Lampung, yaitu kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar dengan andil inflasi sebesar 0,31 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,11 persen; kelompok sandang sebesar 0,05 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,03 persen; dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,03 persen.
"Sedangkan dua kelompok lainnya memberikan andil menahan laju inflasi, yaitu kelompok bahan makanan sebesar 0,04 persen dan kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,01 persen," jelas Adhi Wiriana, seperti dilansir dari laman RRI, Rabu (1/4/2015).
Beberapa komoditi yang dominan memberikan andil inflasi diantaranya bawang merah, sewa rumah, bensin, tukang bukan mandor, genteng, kue kering berminyak, rokok kretek filter, daging ayam ras, baju kaos berkerah, dan ikan kembung segar.
"Inflasi Kota Bandar Lampung menempati peringkat ke-11 dari 82 kota yang diamati perkembangan harganya. Dari 82 kota, 54 kota mengalami inflasi dan 28 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Manokwari sebesar 0,84 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Padang dan Cilacap sebesar 0,01 persen," terang Adhi Wiriana.
Deflasi tertinggi dialami Tanjung Pandan sebesar 1,97 persen, deflasi terendah dialami Medan, Padang Sidempuan, dan Tarakan sebesar 0,01 persen. (*)
