Masjid Agung Al-Furqon Bandar Lampung Wakaf Presiden Soekarno - MEDIA ONLINE

Hot

Wednesday, January 21, 2015

Masjid Agung Al-Furqon Bandar Lampung Wakaf Presiden Soekarno


BANDAR LAMPUNG - Lahan dan bangunan Masjid Agung Al-Furqon, Lungsir, Kota Bandar Lampung, merupakan wakaf dari Presiden RI pertama Soekarno, yang sekaligus memprakarsai pembangunan masjid terbesar di ibukota Provinsi Lampung tersebut. Hal itu diketahui dari penuturan cucu pemilik lahan, Cik Mastia binti H Usman, warga Jalan HR Rasuna Said, Lungsir.

Cik Mastia, saksi hidup yang mengetahui seluk beluk detail masjid itu mengisahkan, pada tahun 1951 Presiden Soekarno membeli lahan untuk masjid, yang berada di tempat strategis, serta selalu jadi tempat ibadah umat muslim dari berbagai kalangan di Bandar Lampung maupun daerah lainnya dan tepat berada di jantung Kota Bandar Lampung tersebut, dari kakeknya, Cak Anang. 

"Setelah dibeli, Presiden Soekarno kemudian mewakafkan lahan tersebut untuk masjid," jelas kata Cik Mastia didampingi suaminya Ismail (77). Sepuluh tahun kemudian, tahun 1961, di lahan tersebut diletakkan batu pondasi, batu bata, dan berbgai tahapan lainnya untuk membangun masjid. Cik Mastia kala itu yang masih kanak-kanak, ikut menyaksikan peletakan batu pertama pembangunan masjid oleh Soekarno.

"Ketika Soekarno datang, warga berduyun-duyun menyaksikannya. Kami mengibar-ngibarkan bendera Merah-Putih dengan riang gembira," kenang Cik Mastia, seraya mengungkapkan kekagumannya pada sosok Soekarno, seperti dilansir Harianlampung, Selasa (20/1/2015).



Hingga kini, keluarga besar Cak Anang, cucu, dan cicitnya yang merupakan warga keturunan suku Palembang dan Banten, masih banyak yang bermukim di Jalan Rasuna Said, Lungsir, Bandar Lampung. Cik Mastia dan suaminya kini berdagang aneka penganan ringan di depan rumahnya. Pasangan kakek dan nenek yang sudah memiliki cicit ini cukup bahagia dengan mengisi waktu mengurus warung sederhana mereka.

Menurut Cik Mastia, Presiden Soekarno saat membeli lahan tersebut dari kakeknya, areanya lebih luas dari Masjid Al-Furqon saat ini. Lahan yang dibeli Soekarno pertama kali luasnya hingga gedung 'Guest House' milik Dinas Kehutanan Lampung. Namun dia tak paham jika di kemudian hari, sebagian lahan itu menjadi pemukiman warga.

"Mungkin karena lama tidak dibangun, sehingga warga banyak yang mematok dan dijadikan pemukiman mereka," duganya. Kini, di lahan seperti yang ditunjukkan Cik Mastia, bukan hanya berdiri pemukiman warga, namun telah berderat perkantoran swasta, rumah dan toko, serta kantor milik pemerintah.

Ketika didirikan Soekarno tempo doeloe, arsitektur bangunan Masjid Agung Al-Furqon tidak seperti sekarang ini. Perubahan arsitektur itu terjadi ketika di akhir era kepemimpinan Gubernur Lampung Poedjono Pranyoto. Dia merehab dan merenovasi masjid sedemikian rupa, sehingga terlihat seperti saat ini. Gubernur Poedjono membangun kembali masjid menjadi dua lantai dan dilengkapi menara.

Namun sayang, di era kepemimpinan Wali Kota Bandar Lampung Herman HN, halaman masjid yang cukup luas tersebut difungsikan menjadi taman kuliner warga dan sempat jadi tempat muda-mudi berbuat yang tidak baik di dalam mobil, yang diparkir di area tempat suci itu. (*)


Post Top Ad