BANDAR LAMPUNG - Lahan
dan bangunan Masjid Agung Al-Furqon, Lungsir, Kota Bandar Lampung, merupakan wakaf
dari Presiden RI pertama Soekarno, yang sekaligus memprakarsai
pembangunan masjid terbesar di ibukota Provinsi Lampung tersebut. Hal
itu diketahui dari penuturan cucu pemilik lahan, Cik Mastia binti H Usman, warga Jalan HR Rasuna Said, Lungsir.
Cik Mastia, saksi hidup yang mengetahui seluk beluk detail masjid itu mengisahkan,
pada tahun 1951 Presiden Soekarno membeli lahan untuk masjid, yang berada
di tempat strategis, serta selalu jadi tempat ibadah umat muslim dari
berbagai kalangan di Bandar Lampung maupun daerah lainnya dan tepat berada di
jantung Kota Bandar Lampung tersebut, dari kakeknya, Cak Anang.
"Setelah
dibeli, Presiden Soekarno kemudian
mewakafkan lahan tersebut untuk masjid," jelas kata Cik Mastia didampingi suaminya Ismail (77).
Sepuluh tahun kemudian, tahun 1961, di lahan tersebut diletakkan batu
pondasi, batu bata, dan berbgai tahapan lainnya untuk membangun masjid.
Cik Mastia kala itu yang masih kanak-kanak, ikut menyaksikan peletakan
batu pertama pembangunan masjid oleh Soekarno.
"Ketika
Soekarno datang, warga berduyun-duyun menyaksikannya. Kami
mengibar-ngibarkan bendera Merah-Putih dengan riang gembira," kenang Cik
Mastia, seraya mengungkapkan kekagumannya pada sosok Soekarno, seperti
dilansir Harianlampung, Selasa (20/1/2015).
Hingga
kini, keluarga besar Cak Anang, cucu, dan cicitnya yang merupakan warga
keturunan suku Palembang dan Banten, masih banyak yang bermukim di
Jalan Rasuna Said, Lungsir, Bandar Lampung. Cik Mastia dan suaminya kini
berdagang aneka penganan ringan di depan rumahnya. Pasangan kakek dan
nenek yang sudah memiliki cicit ini cukup bahagia dengan mengisi waktu
mengurus warung sederhana mereka.
Menurut
Cik Mastia, Presiden Soekarno saat membeli lahan tersebut dari
kakeknya, areanya lebih luas dari Masjid Al-Furqon saat ini. Lahan yang
dibeli Soekarno pertama kali luasnya hingga gedung 'Guest House' milik
Dinas Kehutanan Lampung. Namun dia tak paham jika di kemudian hari,
sebagian lahan itu menjadi pemukiman warga.
"Mungkin
karena lama tidak dibangun, sehingga warga banyak yang mematok dan
dijadikan pemukiman mereka," duganya. Kini, di lahan seperti yang
ditunjukkan Cik Mastia, bukan hanya berdiri pemukiman warga, namun telah
berderat perkantoran swasta, rumah dan toko, serta kantor milik
pemerintah.
Ketika didirikan Soekarno tempo doeloe, arsitektur bangunan
Masjid Agung Al-Furqon tidak seperti sekarang ini. Perubahan arsitektur
itu terjadi ketika di akhir era kepemimpinan Gubernur Lampung Poedjono
Pranyoto. Dia merehab dan merenovasi masjid sedemikian rupa, sehingga
terlihat seperti saat ini. Gubernur Poedjono membangun kembali masjid
menjadi dua lantai dan dilengkapi menara.
Namun
sayang, di era kepemimpinan Wali Kota Bandar Lampung Herman HN, halaman
masjid yang cukup luas tersebut difungsikan menjadi taman kuliner warga dan sempat jadi tempat muda-mudi berbuat yang tidak baik di dalam mobil, yang diparkir di area tempat suci itu. (*)

