![]() |
| Kondisi Jalan Ir Sutami, Lampung yang rusak parah dan hingga kini belum diperbaiki. (ist) |
LAMPUNG - Kondisi infrastruktur jalan dan kelistrikan menjadi yang paling sering dikeluhkan warga di Provinsi Lampung. Infrastruktur jalan relatif kurang baik, karena lalu lintas kendaraan se-Sumatera melewati wilayah Lampung. Warga juga sangat mengeluhkan kondisi listrik yang sering padam karena berbagai alasan dari pihak PLN Lampung, seperti perbaikan dan pemeliharaan.
Hal itu diungkapkan Gubernur Lampung M Ridho Ficardo dalam kegiatan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Provinsi (Musrenbangprov) Lampung 2015, di Kantor Gubernur Lampung, Rabu (25/3/2015). Menurut Ridho, Lampung masih mengalami defisit pasokan listrik sampai 206 Mega Watt (MW). Untuk memenuhi pasokan, kebutuhan listrik Lampung disokong oleh pembangkit dari Provinsi Sumatera Selatan. Akibatnya Lampung belum memiliki kemandirian energi sehingga rentan byar-pet.
"Padahal FSRU (Floating Storage and Regasification Unit) milik PGN di dekat Lampung. Memang sudah ada pengusaha yang datang ke saya untuk bangun pembangkit. Kita dukung, yang penting terbangun kemandirian energi kita," jelasnya.
Selain itu, Ridho juga menyebutkan jika infrastruktur jalan di Lampung masih butuh perhatian. Pemprov Lampung memang mengalokasikan dana besar untuk perawatan jalan, tetapi lalu lintas yang padat serta kendaraan-kendaraan besar yang melintas membuat jalan tidak bisa bertahan lama.
Ridho mengajak seluruh Wali Kota dan Bupati di Lampung mendukung percepatan pembangunan jalan Tol Trans Sumatera. Dengan adanya Tol Trans Sumatera, beban jalan dari kendaraan besar bisa dialihkan ke jalan tol.
"Ini dibangun, beban untuk perbaiki jalan di provinsi dan kabupaten menjadi ringan. Lintasan jarak jauh (se-Sumatera) bisa lewat tol, nggak lewat jalan kita, sehingga APBD nggak tersandera untuk bangun infrastruktur. Sebab belum 1 tahun, sudah rusak lagi," jelasnya, seperti dilsansir Detik.
Sementara itu, seorang warga Lampung bernama Kosasih mengakui listrik memang menjadi masalah pelik. Bahkan karena sering byar-pet, akhirnya banyak warga yang terpaksa membeli genset. Padahal harganya tidak murah.
"Kalau di sini pemadaman sering. Biasanya 1-2 kali seminggu pasti ada. Maka setiap rumah harus ada genset," kata Kosasih. (*)
"Kalau di sini pemadaman sering. Biasanya 1-2 kali seminggu pasti ada. Maka setiap rumah harus ada genset," kata Kosasih. (*)
