LAMPUNG - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung Adhi Wiriana mengatakan, Kota Bandar Lampung Januari 2015 mengalami deflasi sebesar 0,63 persen. Adhi mengatakan, meski besaran deflasi belum mencapai satu persen, namun angka 0,63 persen sangat signifikan, mengingat selama ini Bandar Lampung mengalami inflasi.
"Delapan bulan sebelumnya mengalami inflasi," jelasnya, seperti dilansir Republika, Selasa (3/2/2015).
Menurut dia, deflasi karena adanya penurunan harga BBM jenis Premium dan Solar sebanyak dua kali, juga harga cabai yang anjlok. Ia mengatakan, hanya ada satu kelompok pengeluaran yang memberikan andil pada deflasi, yaitu transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan.
"Kelompok pengeluaran lain yang menahan laju deflasi adalah perumahan, air, listrik, rokok, dan tembakau," ujar Adhi Wiriana.
Sementara, BPS Pusat mengumumkan, terjadi deflasi pada Januari 2015 sebesar 0,24 persen. Ini merupakan deflasi ketiga pada awal tahun setelah deflasi pada Januari 1973 sebesar 1,65 persen dan Januari 2009 yang mencapai 0,07 persen.
Menurut Kepala BPS Suryamin, salah satu pemicu deflasi, di antaranya, penurunan harga bahan bakar minyak (BBM). Sebanyak dua kali, pemerintah menetapkan kebijakan menurunkan harga BBM. Pada awal 2015, pemerintah menurunkan harga Premium dari Rp 8.500 menjadi Rp 7.600 per liter. Penurunan kedua berlaku efektif pada 19 Januari 2015.
Saat itu, pemerintah menetapkan harga Premium yang semula Rp 7.600 menjadi Rp 6.600 setiap liternya. ‘’Harga BBM secara rata-rata turun 15,33 persen jika dibandingkan Desember 2014 dan menyumbang deflasi 0,71 persen,’’ kata Suryamin, di Jakarta.
Kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan menjadi pendorong terbesar deflasi dengan porsi -4,04 persen. Dari pantauan BPS, tarif angkot yang merupakan turunan dari kelompok transpor di atas, turun di 22 kota di seluruh Indonesia. Suryamin menyatakan, semua kota sebenarnya bisa menurunkan tarif angkotnya. Bila ini terjadi maka deflasi akan lebih besar lagi.
Ia menambahkan, masih ada kota-kota yang belum menurunkan tarif angkot meski harga BBM telah dua kali mengalami penurunan. Nanti, kata dia, pemerintah akan mengaturnya. Suryamin mengatakan, penurunan tarif angkot tertinggi terjadi di Ternate sebesar 17 persen dan Sukabumi serta Palembang masing-masing mengalami penurunan 13 persen.
Selain harga BBM dan tarif angkot, deflasi terjadi berkat penurunan harga cabai merah yang mencapai 24,73 persen. Ini dipengaruhi meningkatnya pasokan lantaran sudah memasuki masa panen.
Meski demikian, sejumlah jenis pengeluaran justru memberikan tarikan inflasi. Yang terbesar adalah kelompok bahan makanan sebesar 0,60 persen, makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau yakni 0,65 persen.
Sementara, perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar berkontribusi pada inflasi dengan angka 0,80 persen. Lalu, sandang 0,85 persen, kesehatan 0,66 persen, dan pendidikan, rekreasi, dan olahraga mempunyai andil sebesar 0,26 persen. Kebijakan pemerintah bahwa setelah menurunkan harga BBM maka harga bahan pokok akan mengikuti terbukti selama Januari ini tidak terjadi.
Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia Peter Jacobs mengatakan, realisasi deflasi sejalan dengan proyeksi Bank Indonesia berdasarkan Survei Pemantauan Harga (SPH) mingguan.
"Deflasi pada kelompok administered prices disebabkan kebijakan pemerintah menurunkan harga bensin dan solar, Pertamax, dan tarif angkutan dalam kota," kata Peter, Senin (2/2).
Ke depan, Bank Indonesia akan lebih mencermati risiko inflasi terutama di kelompok pangan, berupa gangguan pasokan, antara lain, terkait dengan faktor cuaca. Bank Indonesia, kata Peter, bersama pemerintah pusat dan daerah bakal meningkatkan koordinasi untuk menjaga realisasi target inflasi sebesar 4,0 plus minus 1 persen pada 2015. (*)
