LAMPUNG - Gubernur Lampung M Ridho Ficardo meminta kenaikan tarif pelayanan kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) ditunda. Sebab, pelayanan rumah sakit milik pemerintah setempat dinilai masih jauh dari harapan masyarakat. Kenaikan tarif RSUDAM sedang dibahas pihak rumah sakit bersama Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).
"Kalau untuk angka kenaikannya belum ditetapkan. Harapan kita pembahasan itu bukan saja mengenai kapasitas, namun kualitas. Karena kebutuhan masyarakat akan kesehatan semakin meningkat," ujar Ridho, di lingkungan Pemprov Lampung di Bandar Lampung, Selasa (17/2/2015).
Menurut dia, jika pihak RSUDAM tetap ingin menaikkan tarif pelayanan kesehatan karena pengaruh inflasi dan meningkatnya harga peralatan kesehatan, hendaknya diimbangi perbaikan, terutama dalam hal pelayanan yang banyak dikeluhkan masyarakat.
"Kalau pun harus ada kenaikan tarif, rumah sakit wajib meningkatkan perbaikan pelayanan kesehatan. Tapi kalau ditanyakan harapan kita (pemprov), kita tidak ingin adanya kenaikan tarif," tegas Gubernur Ridho.
Senada diungkapkan Wakil Gubernur Lampung Bachtiar Basri. Dia menilai, RSUDAM harus memperbaiki pelayanan kesehatan. Ini agar tidak terdengar lagi keluhan dalam hal pelayanan kesehatan.
"Perbaiki dulu pelayanannya. Itu yang terpenting dan dirasakan oleh masyarakat," ujarnya usai rapat paripurna di DPRD Lampung, Selasa. Keinginan mantan Bupati Tulangbawang Barat ini bukan tanpa alasan. Sebab, banyak pasien yang ditolak oleh pihak RSUDAM, hingga riskan untuk menaikan tarif saat ini.
"Harus hati-hati menaikan tarif pelayanan rumah sakit karena menyangkut kesehatan orang banyak," tukasnya, seperti dilansir Harianlampung.
Sementara, Direktur Utama (Dirut) RSUDAM Heri Joko Subandario mengatakan, rencana kenaikan tarif semua sekitar 20 - 30 persen. Heri menjamin, masyarakat tetap terbantu meski tarif rumah sakit meningkat. Pemerintah telah menyiapkan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
"Jadi, kenaikan tarif ini hanya akan dirasakan pasien umum,” ucapnya.
Kendati tarif bakal dinaikkan, tapi tak akan banyak terjadi perbaikan pelayanan kesehatan di rumah sakit milik Pemprov Lampung tersebut. Terutama keterlambatan pelayanan operasi yang sering dikeluhkan pasien karena terbatasnya jumlah dokter spesialis untuk melakukan operasi. Hal ini diakui Dirut RSUDAM.
Dia mencontohkan, hanya ada dua dokter spesialis urologi, sedangkan satunya masih sakit. Saat ini, untuk melakukan operasi seorang pasien dibutuhkan waktu enam sampai tujuh jam.
“Dalam sehari kami bisa mengoperasi dua pasien saja,” tutur Heri. Menurut dia, pihaknya sudah mengusulkan penambahan. Namun, belum ada penambahan, karena sulit mencari dokter spesialis yang mau bekerja di RSUDAM. (*)
