LAMPUNG - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Lampung mengingatkan jika Provinsi Lampung menghadapi tiga ancaman sekaligus, yakni krisis air, pangan dan energi, yang menjadi syarat utama kelanjutan kehidupan. Fenomena itu terjadi karena daerah ini salah urus lingkungan dan aset alam.
Direktur Eksekutif Walhi Lampung, Bejoe Dewangga, mengatakan, salah urus itu terjadi secara akumulatif dan terus-menerus. Sebab, selama ini Lampung mengandalkan pemanfaatan sumber daya alam (SDA) guna menopang perekonomian.
"Lampung menghadapi ancaman krisis tiga sektor utama kehidupan berkelanjutan yakni air, pangan, dan energi," kata Bejoe, saat audiensi dengan unsur pimpinan DPRD Lampung, di Bandar Lampung, Selasa (20/1/2015).
Menurutnya, salah urus pengelolaan SDA itu memicu terjadinya penurunan daya dukung lingkungan, penurunan kualitas lingkungan hidup, dan menipisnya ketersedian sumber daya alam. Hal itulah yang dapat memicu krisis pangan,air, energi, serta bencana ekologis, seperti dilansir Harianlampung.
Bejoe mengemukakan, kini kebutuhan air sangat tinggi, sementara ketersediaannya yang layak konsumsi semakin terbatas. Ini disebabkan menurunnya kualitas air (akibat pencemaran, intrusi, dan kerusakan sumber air), serta kuantitas air. Berdasarkan hasil riset Walhi selama 10 tahun terakhir terhitung sejak 2003 lalu, di lima Daerah Aliran Sungai (DAS) di Lampung, debit air mengalami pengurangan.
"Seperti di sungai terbesar di Lampung, Sungai Way Sekampung. Kesimpulan riset kita, debit air semakin menips. Bahkan, analisa kita di tahun 2022 Lampung semakin mengalami kerisis air. Masuk musim kemarau DAS bisa mencapai titik 0, dan ketika banjir sebentar bisa mengalami banjir bah," papar Bejoe. (*)
