MANADO - Inflasi atau meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus, berkaitan dengan mekanisme pasar yang terjadi di Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara, pada Maret 2015, dipicu kenaikan harga surat kabar.
"Surat kabar harian alias koran pemicu inflasi baru kali ini terjadi. Surat kabar harian menyumbang inflasi sebesar 0,01 persen dan masuk dalam 10 besar komoditas penyumbang inflasi di Kota Manado," jelas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara, Faizal Anwar, di Manado, Kamis (2/4/2015).
"Ternyata yang mengalami kenaikan, yakni surat kabar harian nasional. Namun secara bobot, mempengaruhi ke inflasi," sambungnya. Peningkatan harga surat kabar harian nasional tersebut, menurutnya, karena biaya transportasi dan pengiriman yang juga meningkat.
"BPS mencatat indeks harga konsumen berarti harga yang dibayar konsumen atau masyarakat bukan ke pedagang atau distributor," jelas Faizal, seperti dilansir Skalanews.
Selain surat kabar harian yang menyumbang inflasi, yakni beras sebesar 0,59 persen, bahan bakar rumah tangga 0,13 persen, angkutan udara 0,10 persen, bensin 0,08 persen, cabai rawit 0,08 persen, cakalang 0,04 persen, bawang merah 0,03 persen, kontrak rumah 0,02 persen dan upah pembantu rumah tangga 0,01 persen.
Kota Manado Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) inflasi sebesar 0,50 persen pada Maret 2015. Di Kota Manado, menurutnya, terjadi kenaikan indeks harga konsumen dari 117,54 pada bulan Februari 2015 menjadi 118,13 di Maret 2015.
Inflasi tahun kalender Kota Manado sebesar -0,40 persen atau deflasi, sedangkan secara year on year sebesar 7,99 persen. Dari 82 kota IHK di Indonesia, 54 kota di antaranya mengalami inflasi dan 28 kota mengalami deflasi. (*)
