LAMPUNG - Ratusan hektare tanaman padi di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung terancam puso atau gagal panen, karena masih terendam air akibat banjir sejak beberapa hari terakhir yang belum surut.
Petugas dari UPTD Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kecamatan Palas, Ujuk Kusnadi, di Palas Lampung Selatan, Jumat (13/2/2015), mengatakan, sedikitnya 498 hektare tanaman padi di daerah itu terendam air, dan besar kemungkinan tanaman yang sudah berusia 15-45 hari itu bakalan membusuk dan mengalami puso, dengan tingkat kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
"Derasnya
hujan mengakibatkan tanaman padi berusia kisaran 15-45 hari membusuk
dan rusak," ujar dia. Ujuk Kusnadi menyebutkan, berdasarkan data di
lapangan, para petani yang sudah menanam padi pada musim rendeng sejak
Januari 2015 mencapai 4.487 ha.
Namun, sekitar 1.230 ha terendam, dan 498 ha terancam puso. Menurutnya, tanaman padi yang mengalami puso berada pada tujuh desa, yakni Bumiasri tujuh hektare, Pulaujaya lima hektare, Pematangbaru 100 ha, Sukaraja 70 ha, Sukabakti 10 ha, Bumidaya 50 ha, dan Baliagung 250 ha.
Namun, sekitar 1.230 ha terendam, dan 498 ha terancam puso. Menurutnya, tanaman padi yang mengalami puso berada pada tujuh desa, yakni Bumiasri tujuh hektare, Pulaujaya lima hektare, Pematangbaru 100 ha, Sukaraja 70 ha, Sukabakti 10 ha, Bumidaya 50 ha, dan Baliagung 250 ha.
"Ini kemungkinan masih bisa bertambah, karena hujan diperkirakan masih akan turun," ujar Ujuk Kusnadi.
Dia mengatakan, lahan persemaian (bibit) padi juga ikut terendam, sekitar 137 ha. Ia menjelaskan, target sasaran tanaman padi di Kecamatan Palas mencapai 17.195 ha, dengan target produksi mencapai 98.321 ton per tahun atau rata-rata berkisar antara 5,7 ton/ha gabah kering giling. Sedangkan untuk sasaran percepatan masa tanam di musim gadu pada April--September 2015 mencapai 10.600 ha.
Dia mengatakan, lahan persemaian (bibit) padi juga ikut terendam, sekitar 137 ha. Ia menjelaskan, target sasaran tanaman padi di Kecamatan Palas mencapai 17.195 ha, dengan target produksi mencapai 98.321 ton per tahun atau rata-rata berkisar antara 5,7 ton/ha gabah kering giling. Sedangkan untuk sasaran percepatan masa tanam di musim gadu pada April--September 2015 mencapai 10.600 ha.
"Tanaman
padi di musim gadu lebih luas, karena kondisi lahan areal persawahan
yang semula rawa ditanami jagung kembali ditanam padi," kata Ujuk
Kusnadi, seperti dilansir Wartaekonomi.
Ranto Sukmanto (37), petani Desa Sukabakti, mengatakan dia bersama petani setempat berharap pemerintah memberikan bantuan bibit. "Kita harapkan adanya bantuan bibit, termasuk perbaikan tanggul yang jebol," kata dia pula. (*)
Ranto Sukmanto (37), petani Desa Sukabakti, mengatakan dia bersama petani setempat berharap pemerintah memberikan bantuan bibit. "Kita harapkan adanya bantuan bibit, termasuk perbaikan tanggul yang jebol," kata dia pula. (*)
