![]() |
| Rafli Irawan (19), tewas ditembak polisi, Jumat (30/1/2015) sekitar pukul 03.00 WIB di Kampung Bandar Mas Kecamatan Melinting, Kabupaten Lampung Timur. (ist) |
JAKARTA - Kelompok jaringan Lampung kerap dikenali sebagai kelompok pencurian motor yang seakan tidak pernah habis. Kriminolog Achmad Hisyam menilai kuncinya ialah pada 'kaderisasi'. Jaringan Lampung ini tidak putus-putus, selalu ada. Yang lama ditangkap, lalu muncul lagi yang baru. Itu berarti ada proses 'kaderisasi' yang berjalan.
"Karena itu, penting bagi pihak yang berwenang, baik itu kepolisian maupun pihak lain yang memiliki otoritas, untuk mencari lokasi di mana proses 'kaderisasi' tersebut dilakukan," terang Achmad Hisyam, Kamis (5/2/2015).
Dia
menyatakan, tidak mungkin seseorang menjadi pelaku pencurian motor
tanpa melalui proses belajar. Sebagai contoh, ada sebuah wilayah di
pulau bagian barat yang dinamakan kampung copet. Di wilayah tersebut,
seseorang dilatih dan belajar untuk mencopet.
"Masalah jaringan Lampung ini, kalau memang pemerintah mau, carilah lokasinya di mana, kampungnya di mana, yang terjadi 'kaderisasi' itu," saran Hisyam, seperti dilansir Republika.
Ketika pemerintah berhasil menemukan lokasi tempat terjadi kaderisasinya, lanjut dia, pihak berwenang bisa mencoba untuk 'masuk' dan memperbaiki wilayah tersebut. Hisyam menyatakan hal ini sudah cukup berhasil dilakukan oleh Polres Jakarta Barat. Di wilayah Jakarta Barat, sebelumnya ada wilayah yang dinamai Kampung Ambon yang identik dengan peredaran narkobanya.
Sebelumnya, di Kampung Ambon tersebut, sejak anak-anak lahir hingga tumbuh besar kerap melihat transaksi narkoba. Ini membuat mereka melihat narkoba bukan sesuatu hal yang aneh atau pun salah karena setiap hari mereka melihat hal tersebut. Tapi, sekarang Polres Jakarta Barat sudah mulai merubah dan memperbaiki hal tersebut dengan cara 'menembus' masuk ke sana.
Karena itu, Hisyam menilai penindakan dan penangkapan anggota jaringan Lampung bukan menjadi satu-satunya solusi. Penindakan tetap penting dilakukan bagi para pelaku kambuhan, akan tetapi hal ini perlu diiringi dengan pendidikan bagi para calon pelaku yang dikaderisasi oleh jaringan tersebut.
"Jangan hanya pelakunya yang ditangkap. Ya nggak habis-habis kalau 'pabriknya' nggak ditutup," jelasnya. (*)
"Masalah jaringan Lampung ini, kalau memang pemerintah mau, carilah lokasinya di mana, kampungnya di mana, yang terjadi 'kaderisasi' itu," saran Hisyam, seperti dilansir Republika.
Ketika pemerintah berhasil menemukan lokasi tempat terjadi kaderisasinya, lanjut dia, pihak berwenang bisa mencoba untuk 'masuk' dan memperbaiki wilayah tersebut. Hisyam menyatakan hal ini sudah cukup berhasil dilakukan oleh Polres Jakarta Barat. Di wilayah Jakarta Barat, sebelumnya ada wilayah yang dinamai Kampung Ambon yang identik dengan peredaran narkobanya.
Sebelumnya, di Kampung Ambon tersebut, sejak anak-anak lahir hingga tumbuh besar kerap melihat transaksi narkoba. Ini membuat mereka melihat narkoba bukan sesuatu hal yang aneh atau pun salah karena setiap hari mereka melihat hal tersebut. Tapi, sekarang Polres Jakarta Barat sudah mulai merubah dan memperbaiki hal tersebut dengan cara 'menembus' masuk ke sana.
Karena itu, Hisyam menilai penindakan dan penangkapan anggota jaringan Lampung bukan menjadi satu-satunya solusi. Penindakan tetap penting dilakukan bagi para pelaku kambuhan, akan tetapi hal ini perlu diiringi dengan pendidikan bagi para calon pelaku yang dikaderisasi oleh jaringan tersebut.
"Jangan hanya pelakunya yang ditangkap. Ya nggak habis-habis kalau 'pabriknya' nggak ditutup," jelasnya. (*)
