Disperindag Sulteng: Bisnis Batu Akik Cukup Menjanjikan - MEDIA ONLINE

Hot

Sunday, February 22, 2015

Disperindag Sulteng: Bisnis Batu Akik Cukup Menjanjikan

Batu akik Fairuz Tadulako (Black Obsidian) dari Sulawesi Tengah yang sudah mulai dikenal. (ist) 

SULTENG - Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) Abubakar Almahdali mengatakan bisnis batu akik atau batu permata masih cukup menjanjikan karena, selain adanya kebutuhan dalam negeri, juga untuk prospek ekspor.

"Ke depan batu akik akan diekspor, meskipun bukan bahan pokok dan strategis karena di dalam negeri masih cukup menjanjikan," kata Abubakar pada peluncuran Komunitas Pencinta Batu Permata Pemasyarakatan (Kotabatapas) Rutan Klas IIA Palu, di Palu, Sabtu (21/2/2015). Abubakar mengatakan industri batu permata bersandar pada tiga hal, yakni bahan baku, proses dan pasar.

"Hanya saja tidak bisa dibudidayakan seperti ikan. Inilah keunikan batu," katanya. Dia mengatakan batu yang diolah menjadi batu permata cincin di Sulawesi Tengah masih bersumber dari batu permukaan sehingga belum ada penggalian yang berpotensi merusak lingkungan. Abubakar mengingatkan pertumbuhan industri memang dibutuhkan tetapi harus diminimalisasi dampak khususnya pada kerusakan lingkungan dan konflik.

"Jangan sampai ada yang mengklaim sungai yang memiliki keunikan batu diklaim sebagai miliknya. Ini bisa mengundang perkelahian," katanya. Abubakar mengatakan dirinya sudah diperintahkan Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola agar memperhatikan industri batu tersebut karena itu merupakan peluang bisnis yang tumbuh di masyarakat dengan bahan baku yang melimpah.

"Saya akan meminta kepala bidang industri supaya berangkat ke Jakarta mencari peralatan. Jangan pulang kalau tidak dapat," katanya disambut antusias para warga binaan dan tahanan titipan berbagai dugaan kasus di Rutan Klas II Palu. Dia mengatakan warga binaan Rutan akan diikutsertakan dalam pelatihan kerajinan industri batu permata sehingga memiliki keahlian dalam industri kerajinan batu tersebut.

Warga binaan juga mendapat informasi selayang pandang tentang batu permata yang tersebar di daerah setempat dan daerah lainnya di Indonesia. Di Sulawesi Tengah, beberapa batu akik sudah mulai dikenal dengan nama khusus, di antaranya Fairuz Tadulako (black obsidian). Batu ini sangat diminati masyarakat dan bahkan sudah menembus ke manca negara, khususnya ke Thailand.

Batu Fairuz Tadulako ditemukan di Kabupaten Tojo Unauna dengan tingkat kekerasan mineral 4,5 skala mohs. Batu lokal lainnya adalah batu fosil eboni. Batu ini terbuat dari fosil kayu hitam atau kayu eboni, ditemukan di Kabupaten Poso dan diperkirakan sudah berumur ratusan tahun.

Batu lokal dengan tingkat kekerasan lebih tinggi hingga mencapai 7,5 skala mohs adalah batu Topaz dan Garnet. Dalam sosialisasi itu, disebut-sebut bahwa batu Garnet sudah dipergunakan untuk perhiasan di zaman Mesir kuno. (*)

Post Top Ad