| dr Amran |
BANDAR LAMPUNG - Kondisi cuaca yang tidak menentu berdampak pada cepatnya perkembangan virus dengue, penyebab demam berdarah dengue (DBD) di Kota Bandar Lampung. Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandar Lampung, dr Amran.
"Cuaca
menjadi salah satu faktor yang membuat virus DBD berkembang lebih
cepat, mengingat saat hujan biasanya masih banyak air tergenang, dan di
situ lah tempat favorit nyamuk Aedes Aegypti berkembang," jelasnya,
Senin (9/2/2015).
Nyamuk
Aedes Aegypti, lanjut Amran, merupakan faktor utama yang membawa virus
DBD ke dalam diri manusia. Untuk pencegahannya, masyarakat harus cepat
membersihkan genangan air hujan yang ada di sekitar rumahnya.
Dia
menjelaskan, sebanyak 20 kecamatan sudah masuk dalam endemik DBD dan
patut diwaspadai, selain faktor utama adalah perubahan cuaca dari musim
hujan ke musim kemarau dalam beberapa hari terakhir. Tumpukan sampah
juga ikut membantu mempercepat pertumbuhan virus ini.
"Masyarakat
harus rajin membersihkan selokan, tumpukan sampah dan membuang genangan
air," ujar Amran. Hingga kemarin, dari data yang diperoleh, pasien DBD
sebanyak 89 orang, yaitu warga Bandar Lampung 69 orang, dan 20 warga
dari luar Bandar Lampung.
Menurut
dia, sejauh ini Diskes Bandar Lampung terus berupaya secara optimal
untuk menekan penyebaran DBD, karena dalam beberapa hari saja 20
kecamatan sudah masuk endemik, ujar dia lagi. Padahal awal Februari baru
14 kecamatan.
"Sesuai
dengan instruksi wali kota, kami telah melakukan fogging di seluruh
wilayah Bandar Lampung," kata Amran. Untuk fogging yang dilakukan di
puskesmas, diharapkan terlebih dahulu berkoordinasi dengan camat dan
lurah setempat, seperti dilansir Beritasatu.
"Peringatan
DBD yang tadinya hanya 18 kecamatan, sekarang sudah 20 kecamatan
sehingga harus dikoordinasikan agar berjalan dengan baik, dan obat
fogging serta absensi dapat digunakan secara efektif," jelas dia.
Pihaknya masih memiliki persediaan obat yang banyak di setiap puskesmas
di Bandar Lampung untuk melakukan fogging dan penggunaan bubuk abate.
"Secara
bertahap, fogging, sosialisasi dan abatesasi akan terus dilakukan
sehingga optimal dan berjalan beriringan. Bagi warga yang belum menerima
bubuk abate langsung saja ke kecamatan, atau pun puskesmas bisa diminta
gratis, tidak dipungut biaya," ungkap Amran. (*)