![]() |
| Jembatan layang menghubungkan Jalan Gajah Mada dan Jalan Ir Juanda, Bandar Lampung. (ist) |
BANDAR LAMPUNG - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung segera melakukan survei dan menyosialisasikan pembangunan jembatan layang (flyover) Ki Maja-Ratu Dibalau sepanjang 200 meter. Hal itu terungkap saat Pemkot Bandar Lampung menggelar rapat pertama rencana pembangunan flyover tersebut, Rabu (21/1/2015).
""Kami segera menyurvei dan memulai pencairan anggaran. Rencananya Maret 2015 nanti pembangunan dimulai.
Pemkot sudah membahas nilai ganti rugi pembebasan lahan, juga
titik-titik yang kemungkinan dibongkar, beserta ganti rugi yang akan
diberikan," jelas Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandar Lampung, Putu, seusai rapat tertutup yang berlangsung selama lebih sejam di Ruang Rapat Wali Kota, Pemkot Bandar Lampung.
Pembangunan
flyover ini mendapat kritikan dari warga setempat. Warga menilai,
sampai kini belum ada sosialisasi dari Pemerintah Kota Bandarlampung
terkait rencana pembangunan tersebut. Padahal, ada 17 titik ruas jalan
di sepanjang rute itu dibongkar. Dan ini akan berpengaruh terhadap
aktivitas ekonomi warga di tempat itu. Proyek ini menghabiskan anggaran
sebesar Rp35 miliar.
Andreas
Norbet (28), pengusaha Bengkel Tunas Jaya yang terletak di dekat calon
lokasi pembangunan flyover, mengatakan, pembangunan tersebut tidak akan
terlalu berpengaruh mengurai kemacetan.
"Lihat
saja sudah sore begini, jalanan masih lengang," ujarnya. Jika jadi
dibangun, ia menyayangkan keputusan pemkot. "Tahun kemarin, jalan ini
baru saja dilebarkan, masa sudah mau ditutup lagi," ujarnya. Ia
khawatir, tempat usahanya sepi pengunjung akibat pembangunan tersebut.
"Sudah
banyak contohnya, kalau dibangun flyover, jalan di bawahnya pasti mati.
Padahal usaha saya ini bengkel yang notabene konsumennya orang yang
melintas di depan jalan," ujarnya, seperti dilansir Harianlampung.
Sementara,
Taufik (30), pengusaha konter pulsa di perempatan Ki Maja-Ratu Dibalau,
mengaku tidak terlalu ambil pusing. "Kalau mau digusur itu urusan bos,
lagipula di tempat ini saya hanya menyewa. Tapi kalau memang nantinya
digusur, saya menyesal kalau harus pindah, terlebih tempat ini sudah
lumayan ramai pembelinya," kata dia.
Menurutnya,
yang akan terpukul justru pemiliki ruko permanen dan rumah di sekitar
rute tersebut. "Mudah-mudahan nantinya pemkot dapat memberikan uang
ganti rugi yang mencukupi. soalnya sepanjang jalan ini, sudah padat ruko
dan permukiman penduduk," harapnya. (*)
