![]() |
| (foto: istimewa) |
MEDIA ONLINE - Badak Sumatera bernama Ratu melahirkan bayi betina di Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Ini merupakan anak kedua Ratu.
"Yayasan Badak Internasional (The International Rhino Foundation/IRF) dengan senang mengumumkan kelahiran badak betina dari induk bernama Ratu, badak Sumatera berusia 14 tahun di Suaka Badak Sumatera (Sumatran Rhino Sanctuary/SRS), di TN Way Kambas," demikian diumumkan blog IRF yang dikutip Jumat (13/5/2016).
Badak betina Ratu itu melahirkan pada Kamis (12/5) kemarin pukul 04.42 WIB dengan tanpa komplikasi dengan didampingi dokter hewan dari Suaka Badak, pawang beserta penasihat internasional. Bayi badak betina ini merupakan anak kedua Ratu.
Pada
2012 lalu, Ratu mencetak sejarah dengan melahirkan badak jantan yang
diberi nama Andatu. Kelahiran ini juga merupakan kali kedua di TN Way
Kambas, tempat suaka badak selama 128 tahun terakhir.
"Kami gembira bahwa Ratu dalam keadaan sehat dan optimis bahwa anaknya akan terus berkembang. Dia benar-benar menggemaskan, dan kami belum berhenti tersenyum sejak saat kami yakin dia masih hidup dan sehat. Sementara satu kelahiran tidak bisa menyelamatkan satu spesies, namun ada satu lagi badak Sumatera di Bumi," kata direktur eksekutif IRF, Dr Susie Ellis.
Berat bayi badak betina itu sekitar 45 pon atau 20-an kg dan terlihat sehat dan aktif. Dr Zulfi Arsan, kepala dokter hewan di SRS, terus memantau beberapa pekan sebelum melahirkan, menimbang berat dan melakukan USG biasa, menggunakan metode yang dikembangkan oleh Pusat Reproduksi Spesies Terancam Punah dari Kebun Binatang Cincinnati, AS. Ayah bayi badak itu adalah Andalas, yang lahir di Kebun Binatang Cincinnati tahun 2001.
"Ratu tampak gelisah selama beberapa hari dan hanya membutuhkan waktu sekitar 4 menit untuk melahirkan. Bayinya bisa berdiri dalam satu jam pertama dan mulai menyusui dalam dua jam pertama," kata dia, seperti dilansir Detik.
"Sekali lagi, Ratu menunjukkan bahwa dia adalah seorang ibu yang sangat baik," imbuh dr Arsan.
Ratu memang dikondisikan untuk hamil dengan memberinya hormon dan suplemen yang diberikan oral setiap hari. Hal yang sama yang dilakukan pada induk Andalas, pasangan Ratu, di Kebun Binatang Cincinatti.
Kelahiran bayi badak betina ini menambah populasi badak Sumatera yang berada di ambang kepunahan, hanya kurang dari 100 ekor di dunia. Sedangkan IRS mengembangkan Suaka Badak Sumatera sejak 1997. Kelahiran badak betina ini menunjukkan bahwa para pakar di Indonesia berkontribusi terhadap pertumbuhan populasi badak. (*)
"Kami gembira bahwa Ratu dalam keadaan sehat dan optimis bahwa anaknya akan terus berkembang. Dia benar-benar menggemaskan, dan kami belum berhenti tersenyum sejak saat kami yakin dia masih hidup dan sehat. Sementara satu kelahiran tidak bisa menyelamatkan satu spesies, namun ada satu lagi badak Sumatera di Bumi," kata direktur eksekutif IRF, Dr Susie Ellis.
Berat bayi badak betina itu sekitar 45 pon atau 20-an kg dan terlihat sehat dan aktif. Dr Zulfi Arsan, kepala dokter hewan di SRS, terus memantau beberapa pekan sebelum melahirkan, menimbang berat dan melakukan USG biasa, menggunakan metode yang dikembangkan oleh Pusat Reproduksi Spesies Terancam Punah dari Kebun Binatang Cincinnati, AS. Ayah bayi badak itu adalah Andalas, yang lahir di Kebun Binatang Cincinnati tahun 2001.
"Ratu tampak gelisah selama beberapa hari dan hanya membutuhkan waktu sekitar 4 menit untuk melahirkan. Bayinya bisa berdiri dalam satu jam pertama dan mulai menyusui dalam dua jam pertama," kata dia, seperti dilansir Detik.
"Sekali lagi, Ratu menunjukkan bahwa dia adalah seorang ibu yang sangat baik," imbuh dr Arsan.
Ratu memang dikondisikan untuk hamil dengan memberinya hormon dan suplemen yang diberikan oral setiap hari. Hal yang sama yang dilakukan pada induk Andalas, pasangan Ratu, di Kebun Binatang Cincinatti.
Kelahiran bayi badak betina ini menambah populasi badak Sumatera yang berada di ambang kepunahan, hanya kurang dari 100 ekor di dunia. Sedangkan IRS mengembangkan Suaka Badak Sumatera sejak 1997. Kelahiran badak betina ini menunjukkan bahwa para pakar di Indonesia berkontribusi terhadap pertumbuhan populasi badak. (*)
