![]() |
| ilustrasi |
MEDIA ONLINE - Kabareskrim Polri, Komjen Budi Waseso (Buwas) mengaku sejak lama membidik peternakan sapi yang digerebek tim Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri atas dugaan melakukan penimpunan sapi.
"Kita melakukan operasi di tempat-tempat penampungan sapi yang merupakan impor dari Australia. Ini sasaran kita sudah lama di beberapa tempat dan saat ini sudah kita lakukan satu lokasi di kota Tangerang," kata Buwas saat dihubungi di Jakarta, Rabu (12/8/2015).
Buwas menambahkan pihak peternakan tersebut melakukan penyimpangan dengan melakukan penimbunan sapi. Namun dirinya masih belum memastikannya lebih lanjut.
"Anggota sudah di TKP (tempat kejadian perkara). Nanti ya, kita lihat dan informasi sementara ditemukan ada 500 ekor sapi yang harusnya dipotong sebelum Lebaran (Idul Fitri) kemarin tapi sampai hari ini tidak dipotong," jelasnya.
Mantan Kapolda Gorontalo ini menduga bahwa adanya unsur kesengajaan terkait dugaan penimbunan ratusan sapi tersebut. Saat ini dikatakannya lokasi peternakan sudah disegel dengan police line.
"Kan, ini baru satu tempat yang kita temukan. Ya, tidak menutup kemungkinan tempat-tempat lain juga seperti ini karena mungkin ada upaya monopoli ekonomi supaya menahan yang seharusnya dipotong," tuturnya.
Disampaikan Buwas bahwa adanya tindakan penyimpangan ini merupakan salah satu penyebab kelangkaan maupun mahalnya daging sapi potong belakangan ini.
"Untuk penampungan itu, pokonya dua-duanya (lokasi penggerebekan) tuh, lebih dari seribu ekor (sapi)," tandasnya, seperti dilansir Inilah.
Diberitakan sebelumnya, Kabareskrim Polri, Komjen Budi Waseso (Buwas) beserta timnya melakukan inspeksi mendadak (sidak) sekaligus penggerebekan di dua lokasi peternakan sapi terkait dugaan penimbunan daging sapi malam ini, Rabu (12/8/2015).
Adapun lokasi penggerebekan dilakukan di PT. Brahman Perkasa Santosa. Jalan Kampung Kelor No. 33 Kecamatan Sepatan Tangerang dan jalan Suryadaharma Selapajang arah Kedaung, belakang bandara Soekarno-Hatta.
Sebelumnya diberitakan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, mengungkapkan terdapat sejumlah pelaku usaha yang melakukan penyimpangan sehingga menyebabkan matinya produksi lokal di Indonesia.
Adapun pelaku usaha tersebut mengimpor cukup besar komoditas tertentu saat musim panen sehingga produksi dalam negeri mati dan mematikan motivasi para petani maupun peternaknya.
Berdasarkan data yang berhasil dihimpun Polri hingga saat ini, ada sekitar tujuh perusahaan yang melakukan penyimpangan tersebut dengan mengincar komoditas perusahaan dalam negeri. (*)
