BANDAR LAMPUNG - Tembak mati terhadap pelaku begal sepertinya sudah harus diterapkan. Seperti yang terjadi di Bandar Lampung. Komplotan begal menghabisi nyawa Roni Firmansyah (18) di Jalan Ikan Kerapu, Telukbetung Selatan, Jumat (13/3/2015) malam atau Sabtu dinihari sekitar pukul 01.50 WIB. Roni tewas setelah terkena tikaman di dada bagian kiri.
Pelaku juga membawa kabur sepeda motor Yamaha Vixion merah BE 4757 CL milik korban Roni.
Kapolsek Telukbetung Selatan Kompol Sarpani mengatakan, korban yang teridentifikasi warga Jalan Ikan Bawal, TbS, meninggal di tempat kejadian perkara (TKP). Luka tusukan di bagian dada terlalu dalam, yakni 12 centimeter, sehingga korban tak berhasil diselamatkan.
Sarpani mengaku pihaknya dan dibantu tim buru sergap (buser) Polresta Bandar Lampung sedang melakukan penyelidikan. Untuk sementara pelaku diduga berjumlah dua orang.
"Petugas sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan kini sedang memburu pelaku," kata Sarpani, Sabtu.
Sementara itu, Armah, ibunda Roni, tak menyangka akan kehilangan anak sulungnya itu untuk selama- lamanya. Armah dan suaminya selama ini tinggal di Serang, Banten. Sedangkan Roni memilih tinggal di Bandar Lampung bersama kerabatnya.
"Roni ini anak pertama saya. Dia tinggal di Bandar Lampung ikut Uwaknya. Kalau saya tinggal di Serang, Banten," katan Armah, saat ditemui di rumah duka, Sabtu.
Armah mengaku sudah mempunyai firasat buruk sebelum peristiwa nahas menimpa anaknya. Hatinya terus dilanda kegelisahan pada Jumat (13/3/2015) malam, saat bersamaan anaknya tengah berjuang melawan maut. Kegelisahan itu pun tak hilang meski telah tertidur sejak pukul 01.00 WIB. Belakangan diketahui pada saat yang sama, sekitar pukul 01.50 WIB, anaknya diduga sedang sekarat menjelang ajal menjemput.
"Memang sudah ada firasat itu, tepatnya sejak Jumat malam. Waktu tidur saya mimpi, dia memanggil saya. Anak saya itu memanggil "emak..emak..emak..." tutur Armah menirukan panggilan Roni dalam mimpinya. Armah langsung terbangun karena mimpi itu. Badan Armah gemetaran. Ia pun meminta pertolongan suaminya untuk menemaninya.
Dua jam kemudian, sekitar pukul 03.00 WIB, Armah yang tengah dilanda kegelisahan dikejutkan dering bunyi ponselnya. Penelepon adalah keluarga Armah di Bandar Lampung yang memberitahukan bahwa anaknya telah meninggal dunia, seperti dilansir Tribunlampung.
"Dari situ saya lemas. Saya dan suami langsung pergi ke Bandar Lampung dan tiba pukul 10.00 WIB," kata Armah. Menurut dia, Roni adalah anak yang mandiri. Roni pun sangat menyayangi adik semata wayangnya.
"Anak saya itu ingin hidup mandiri. Motor yang didapatnya itu juga hasil jerih payahnya selama ini bekerja di bengkel," tutur dia. (*)
"Anak saya itu ingin hidup mandiri. Motor yang didapatnya itu juga hasil jerih payahnya selama ini bekerja di bengkel," tutur dia. (*)
