LAMPUNG ONLINE - Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Gus Irawan Pasaribu menyatakan, pemerintah tidak serius dalam menangani kenaikan nilai mata uang dolar Amerika Serikat terhadap rupiah, yang saat ini sedang terjadi.
"Bagi saya, pemerintah tidak serius mengurus masalah ini. Enam paket kebijakan yang dikeluarkan juga kurang pengaruhnya untuk menurunkan dolar AS," kata Irawan dalam seminar nasional Dukungan Asbanda dalam Transformasi BPD Menuju "Regional Champion" di Jakarta, Rabu (25/3/2015).
Menurut dia, seharusnya dilakukan pengawasan terhadap aktivitas bisnis yang dilakukan oleh sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) karena kerap menggunakan dolar AS.
"Yang paling 'lahap' menggunakan dolar itu BUMN. Itu setiap transaksi suka menggunakan dolar, ya, tentu mereka harus dikontrol," kata Irawan.
Selain itu, dia berpendapat bahwa Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp72 triliun pada BUMN merupakan kebijakan yang tidak logis. Menurutnya akan lebih berguna jika dialihkan ke kredit usaha rakyat (KUR). Irawan juga menyayangkan pernyataan sejumlah pihak di pemerintahan yang mengatakan bahwa KUR tidak akan menurunkan angka kemiskinan di Indonesia.
"Suku bunga rata-rata masyarakat ASEAN 2-4 persen, di Indonesia 9-10 persen, lalu suku bunga kredit ASEAN 3-7 persen, kita lebih tinggi lagi. Kalau pemerintah bilang itu (KUR) tidak bermanfaat, itu fatal," cetusnya, seperti dilansir Skalanews.
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardjojo di Jakarta mengatakan bahwa depresiasi atau pelemahan rupiah terhadap dolar AS merupakan hal yang tidak perlu dikhawatirkan.
"Dolar AS sedang menguat ke semua mata uang, dan semua ikut tertekan. Kalau Indonesia dibandingkan dengan negara berkembang lain, depresiasi mereka lebih tinggi," kata Agus, Jumat (13/3)/2015 lalu.
Depresiasi rupiah terhadap dolar amerika mencapai 1,8 persen, lalu year to date sekitar 6 persen, dan tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan kondisi di negara lain, kata Agus. Menurut dia, kondisi secara umum memang tengah terjadi penguatan dari dolar AS dan ada kecenderungan Fed Fund Rate akan dinaikkan pada bulan Juni 2015. (*)
