![]() |
| Penyergapan terduga begal assal Lampung Timur di Tangerang belum lama ini. (ist) |
LAMPUNG TIMUR – Warga Lampung Timur yang bekerja dan tinggal di wilayah Jabodetabek mulai resah atas tuduhan sebagai pelaku kejahatan di ibu kota. Setiap kali aksi kejahatan terjadi, mereka kerap dikaitkan sebagai otak hingga pelaku. Yang baru saja terjadi, dialami empat dari lima warga Lampung Timur yang tewas ditembak polisi sektor serpong, Kota Tangerang, Minggu (8/2/2015).
Tewasnya lima warga Desa Gunung Sugih Besar, Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur ini masih menyisakan tanya bagi keluarga dan kerabat. Sebab, kelimanya belum tentu melakukan kejahatan seperti apa yang dituduhkan pihak kepolisian. Namun, tanpa pandang bulu dan terkesan memukul rata, aparat menembak mati kelimanya karena berasal dari wilayah endemis kriminalitas.
Salah seorang tokoh masyarakat Lampung Timur, Fanani menegaskan, warga Lampung Timur yang tinggal di Jabotabek dan Jakarta belum tentu semuanya penjahat.
“Banyak warga Lampung Timur tinggal di Jakarta bekerja dan menempuh pendidikan perguruan tinggi. Dengan kejadian ini, sangat merugikan serta meresahkan mereka yang sudah tinggal dan menetap di Jakarta,” kata Fanani, seperti dilansir Lampungx, Rabu (11/2/2015).
Begitu juga dengan warga Lampung Timur yang bermaksud bepergian ke Jakarta, entunya akan merasa was–was dituduh sebagai penjahat. Apalagi jika terjaring razia dan memiliki kartu penduduk Lampung Timur dipastikan akan membuat sulit.
Lewat kejadian ini, Fanani berharap pihak kepolisian profesional dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, kepolisian harusnya mengedepankan praduga tak bersalah terhadap warga serta penyelidikan yang akurat sehingga tidak semua masyarakat Lampung Timur dijadikan target sasaran.
Lima Warga Dimakamkan
Sementara itu, lima warga Lampung Timur yang ditembak mati kepolisian sektor Kota Tangerang, Selasa (10/2) sore, dimakamkan di kampung halamannya. Isak tangis keluarga pecah saat satu persatu dari lima warga yang tewas tersebut diberangkatkan ke pemakaman umum desa setempat. Kelimanya adalah Ahmad safe’i (24), Abdul Rahim (25), Ibrahim (25) , Abdul Wahab (24), dan M. Ali (28).
Keluarga tak menyangka, kerabatnya itu tewas di tangan polisi dengan cara mengenaskan. Sebab selama ini, empat dari lima warga tersebut dikenal merupakan orang baik–baik dan bukan pelaku kejahatan. Mereka diketahui berprofesi sebagai sopir dan kuli bangunan.
Kepala Desa Gunung Sugih Besar, Hasan Soleh mengatakan, prosedur penembakan terhadap lima warga tersebut tidak disertai barang bukti kuat hasil kejahatan.
“Saat penjemputan lima jenasah di rumah sakit di Kota Tangerang tidak ada satu pun perwakilan perwira polisi yang berwenang memberikan penjelasan kronologi kejadian,” terang Hasan.
Pihak keluarga menuding kepolisian sangat jelas membuat skenario lima orang yang tewas tersebut seakan pelaku aksi kriminalitas sungguhan. Padahal selama ini, empat dari lima orang yang tewas tersebut tidak memiliki catatan kriminal baik di polsek sekampung udik maupun polres lampung timur.
Sedangkan satu orang bernama M. Ali (28), baru sebulan tinggal di kota tangerang dan bekerja serabutan.
“Jika terjadi penangkapan terhadap M. Ali, masyarakat tidak mempermasalahkan karena yang bersangkutan memang memiliki catatan kriminal di Lampung,” tambah Hasan. (*)
