BANDAR LAMPUNG - Pada perayaan tahun baru China, Imlek, 2566, Kamis (19/2/2015), warga Thionghoa di Bandar Lampung, Provinsi Lampung, menyambutnya dengan penyalaan 500 pasang atau 1000 batang lilin raksasa di Vihara Thay Hin Bio. Penyalaan lilin raksasa saat puncak perayaan Imlek itu sebagai simbol kesejahteraan dan harapan bagi pemiliknya.
"Semua ini merupakan sumbangan warga atau jemaat. Mereka akan menyalakan sendiri setelah mengikuti kebaktian pada malam perayaan tahun baru," kata Ketua Muda-mudi Wihara Thai Bin Hio Tan Cung Wei, Rabu (18/2/2015).
Lilin-lilin berukuran jumbo itu memadati seluruh ruangan vihara tertua dan terbesar di kawasan Pecinan Teluk Betung, Bandar Lampung. Para pemasang lilin tidak hanya berasal dari warga Bandar Lampung, tapi juga datang dari luar kota.
"Untuk ukuran terbesar seberat setengah ton dan tingga dua meter. Semua ada label nama pemiliknya," kata pria yang juga akrab disebut Anton itu.
Sepuluh buah lilin raksasa merupakan sumbangan keluarga Arthalyta Suryani alias Ayin. Arthalyta merupakan mantan terpidana kasus suap jaksa Urip Tri Gunawan. Ayin dihukum 4,5 tahun penjara oleh Mahkamah Agung karena terbukti menyuap Urip US$ 660 ribu. Suap itu sebagai imbalan Urip membeberkan penyelidikan kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang membelit taipan Sjamsul Nursalim. Setiap tahun keluarga Ayin memang selalu memasang lilin berukuran paling besar yang diletakkan di dekat altar utama.
"Harganya bisa puluhan juta karena harus dipesan khusus di Jambi atau di Jakarta. Kami tidak mengurusi pembelian lilin. Mereka datang dan mendaftar agar bisa ditata rapi di dalam vihara," kata Anton.
Ukuran terbesar lilin yang ada di dalam vihara mencapai setengah ton dan tinggi dua meter. Sementara untuk lilin terkecil berukuran 30 kilogram. Lilin dengan berat di atas 5 kuintal dipasang di dalam vihara sedangkan yang berukuran kurang dari 100 kilogram hanya dipasang di halaman vihara.
"Sebenarnya sama saja. Yang penting hati pemasang sampai atau tidak ke Yang Maha Kuasa," katanya.
Vihara Thay Hin Bio setiap perayaan Imlek selau dipadati oleh ribuan warga Thionghoa dan etnis lain. Berbagai atraksi kesenian khas Mandarin akan digelar di depan vihara yang berseberangan dengan rumah duka itu, seperti dilansir Tempo.
"Kami menggelar perayaan Imlek bukan hanya untuk etnis Tionghoa, tapi juga untuk warga lain agar timbul persaudaraan dan pembauran yang baik," kata Sekretaris Paguyuban Sosial Marga Thionghoa Indonesia (PSMTI) Provinsi Lampung Iwa TJ. Iwa mengatakan, perayaan Imlek akan dipusatkan di sejumlah vihara yang ada di Bandar Lampung. Paguyuban memberi keleluasan penuh bagi pengelola vihara untuk menggelar berbagai acara.
"Tapi yang terpenting tentu saja kebaktian. Itu sebagai wujud syukur dan harapan di masa yang akan datang," katanya. Untuk pengamanan perayaan Imlek, ratusan anggota Polisi dan TNI akan disebar di belasan vihara dan pusat perbelanjaan yang menjadi pusat perayaan. Mereka sudah mulai berjaga sejak hari ini hingga perayaan Cap Go Meh.
"Semua personel sudah siap. Polisi akan memeriksa setiap warga yang akan masuk ke dalam vihara, untuk memastikan tidak membawa barang berbahaya," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Poda Lampung Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Sulistyaningsih. (*)
