Komnas HAM: Lampung Tiga Besar Daerah Rawan Konflik - MEDIA ONLINE

Hot

Tuesday, February 10, 2015

Komnas HAM: Lampung Tiga Besar Daerah Rawan Konflik

Ansori Sinungan

LAMPUNG - Karena sering terjadi konflik horizontal, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menilai Provinsi Lampung perlu mendapatkan perhatian serius. Hal itu disampaikan Wakil Ketua Internal Komnas HAM Ansori Sinungan, Senin (9/2/2015). Ansori menyebutkan, ada tiga provinsi yang mendapat perhatian khusus karena rawan konflik, yakni Papua, Maluku dan Lampung.

"Kami melihat Lampung belakangan sering sekali terjadi konflik. Hampir setiap tahun ada saja kejadian yang rata-rata dipicu oleh persoalan sepele," kata Ansori. Terkait konflik yang terjadi di Probolinggo, Lampung Timur, tim Komnas HAM sedang melakukan investigasi.

"Kami melihat persoalannya sederhana dan ini melibatkan anak di bawah umur. Semestinya tidak boleh mendapat perlakuan hukum seperti orang dewasa," ujar dia. Memang, kata Ansori, konflik tersebut tidak sampai menimbulkan korban jiwa, namun tetap perlu mendapatkan penanganan serius. 

Karena itu, Komnas HAM membentuk tim percepatan penanganan konflik horizontal. Salah satu rekomendasi Komnas HAM adalah agar pemerintah setempat memberi perhatian yang sama antara penduduk pendatang dengan masyarakat pribumi.

"Desa penyerang kalau saya lihat merupakan desa tua dan miskin, di sana minim sekali penerangan. Itulah yang menimbulkan kecemburuan sosial," papar Ansori. Komnas HAM juga memperingatkan polisi untuk tidak mudah menembak masyarakat.

"Soal penembakan aparat kepolisian dalam konflik kemarin, saya melihat masih pada tahapan yang wajar karena massa yang tidak dapat dibendung lagi," ujar Ansori.

Sebelumnya, terjadi penyerangan di Desa Tamanasri, Kecamatan Probolinggo, Kabupaten Lampung Timur hingga terjadi perusakan rumah akibat amuk massa. Sampai saat ini, warga Desa Taman Asri masih dijaga ketat anggota TNI dan kepolisian saat akan melakukan aktivitas perkebunan dan pertanian.

Kapenrem 043 Gatam Mayor Inf Prabowo mengatakan, warga masih trauma pasca-kejadian itu. Mereka ingin selalu mendapat kepastian kemanan dari aparat.

"Kami mengawal mereka ke lokasi aktivitas bekerja dan aktivitas sekolah sampai kondisi benar-benar kondusif," kata dia, seperti dilansir Kompas.

Penyerangan itu bermula dari tindakan pencurian empat orang pemuda dari Gunungnabung, Lampung Timur. Pencurian itu diketahui petugas satpam pasar Tamanasri dan memicu massa untuk main hakim sendiri karena kesal sering terjadi pencurian di sana. (*)


Post Top Ad