TIONGKOK -
Perbuatan seorang pemuda 19 tahun asal kota Nantong, Tiongkok ini
benar-benar membuat geleng kepala. Dia memotong hingga putus tangan
kirinya sendiri sebatas pergelangan dengan memakai sebuah pisau dapur.
Si pemuda yang namanya tak disebutkan itu, menurut laporan The Telegraph dan dilansir Kompas,
Minggu (8/2/2015), rupanya berpikiran ingin menyembuhkan diri sendiri
dari “penyakit” kecanduan internet. Sayang, cara yang ditempuhnya
terbilang ekstrim dan membuat miris.
“Kami
tak bisa menerima apa yang telah terjadi. Ini benar-benar tak disangka.
Dia seorang anak yang pintar,” ujar ibu sang pemuda kepada wartawan.
Si
ibu mengatakan bahwa pada Rabu (4/2/2015) lalu anaknya itu menghilang
dari kamar rumah sekitar pukul 11 malam. Di tempat tidurnya hanya
terdapat lembaran kertas berisi tulisan pemberitahuan.
“Ibu, saya pergi ke rumah sakit sebentar,” bunyi tulisan tersebut. “Jangan khawatir karena saya akan pulang ke rumah malam ini.”
Rupanya
sang pemuda yang hanya diidentifikasi dengan nama “Little Wang” itu
diam-diam ke luar rumah dan memotong tangannya di sebuah kursi taman.
Dia kemudian memanggil taksi untuk pergi ke rumah sakit, sementara
potongan tangannya ditinggalkan tergeletak begitu saja di tanah.
Tim
dokter di sebuah rumah sakit universitas setempat berhasil
menyambungkan potongan tangan sang pemuda setelah ditemukan dan dibawa
oleh polisi, tetapi belum diketahui apakah si pemuda nekat bakal kembali
bisa menggunakan tangannya seperti dulu atau tidak.
Pecandu internet
“Little
Wang” adalah satu dari sekitar 24 juta “web junkie” atau pecandu
internet yang diperkirakan berada di Tiongkok, negeri dengan jumlah
populasi online sebesar 649 juta.
Pecandu
internet adalah mereka yang demikian sering menghabiskan waktu di dunia
maya sehingga seringkali melewatkan sekolah, atau bahkan jarang
meninggalkan kamar tidur karena sibuk beraktivitas di ranah internet.
Di
Tiongkok pun belakangan banyak bermunculan klinik dan pusat pelatihan
ala militer untuk mengakomodir para pecandu internet yang ingin
rehabilitasi.
Psikolog
Tao Ran yang mengelola salah satu pusat rehabilitasi web junkie di
Beijing mengatakan bahwa sekitar 14 persen pemuda di Tiongkok kini
diperkirakan mengalami kecanduan internet.
“Mereka (pecandu internet) hanya melakukan dua hal, yakni tidur dan bermain (online),” kata Tao.
Fenomena
ini pun telah menarik perhatian kaum politisi di Tiongkok dan wilayah
Asia Timur. Bulan lalu, misalnya, pemerintah Taiwan mengesahkan
peraturan di mana orang tua bisa didenda jika membiarkan anaknya
menggunakan “perangkat elektronik” dalam waktu lama.
Di
Jepang, pusat-pusat “puasa internet” didirikan menyusul laporan yang
menyebutkan bahwa ratusan ribu remaja di negeri sakura telah
“menelantarkan” dunia nyata dan lebih giat berinternet.
Di
Tiongkok sendiri, di kota Shanghai, para orang tua diharuskan mencegah
anaknya “merokok, minum alkohol, berkeliaran di jalan, serta terlalu
asyik dengan mainan online dan online”.
Tao
mengatakan bahwa langkah-langkah yang lebih tegas perlu dilakukan dalam
menyikapi para pecandu internet. Anak-anak di bawah 7 tahun, menurut
dia, harus dijauhkan dari internet dan game online. Remaja di bawah 18
tahun pun disebutnya perlu dilarang masuk ke kafe internet. (*)
