![]() |
| Pelajar SMA di Bandar Lampung yang terjaring razia operasi tertib siswa (OTS) baru-baru ini. (ist) |
LAMPUNG -
Maraknya aksi bolos sekolah jelang Ujian Nasional (UN) oleh para
pelajar tingkat SMP dan SMA, ditambah lagi terkuaknya foto selfie
topless salah satu siswi SMA swasta di Bandar Lampung, disayangkan
banyak pihak, tak terkecuali salah satu akademisi Universitas Lampung
(Unila) Pairulsyah.
"Hal tersebut merupakan bentuk kesewenangan yang kini dianggap wajar di kalangan remaja yang menjadi pelaku sekaligus korban dari kedua kejadian tersebut. Banyak faktor remaja mudah melakukan hal itu. Mulai dari faktor internal seperti keinginan agar lebih diperhatikan khalayak sehingga menjadi kebanggaan diri," jelasnya, seperti dilansir laman Unila, Jumat (13/2/2015).
Di samping itu, lanjut Pairulsyah, ada juga faktor eksternal akibat salah pola dan penerapan dalam tata cara pergaulan di tengah masyarakat luas, terutama dari lingkungan teman sebayanya. Ini berdampak pada sikap dan perilaku orang-orang yang terlibat. Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unila ini mengungkapkan, peran keluarga dan sekolah kurang optimal dalam membimbing pribadi siswa menghadapi masa transisinya.
"Hal tersebut merupakan bentuk kesewenangan yang kini dianggap wajar di kalangan remaja yang menjadi pelaku sekaligus korban dari kedua kejadian tersebut. Banyak faktor remaja mudah melakukan hal itu. Mulai dari faktor internal seperti keinginan agar lebih diperhatikan khalayak sehingga menjadi kebanggaan diri," jelasnya, seperti dilansir laman Unila, Jumat (13/2/2015).
Di samping itu, lanjut Pairulsyah, ada juga faktor eksternal akibat salah pola dan penerapan dalam tata cara pergaulan di tengah masyarakat luas, terutama dari lingkungan teman sebayanya. Ini berdampak pada sikap dan perilaku orang-orang yang terlibat. Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unila ini mengungkapkan, peran keluarga dan sekolah kurang optimal dalam membimbing pribadi siswa menghadapi masa transisinya.
“Usia
para pelajar ini sedang masuk musim pancaroba atau peralihan dari belia
ke remaja. Sebagian mengekspresikan kelabilan mereka dalam bentuk
kepercayaan diri yang timbul dari pengaruh lingkungan melalui interaksi
sosial,” katanya.
Dalam situasi itu, sambungnya, akan didapat kewajaran dalam melanggar nilai-nilai dan norma yang ada di tengah masyarakat. Akibatnya remaja akan berperilaku antipati terhadap norma sosial yang efeknya tak hanya merusak diri tapi lingkungan sekitar. Maka dari itu peran orang tua dan pembimbing di sekolah sangat penting dalam menanamkan nilai-nilaidan kontrol sikap pada anak.
“Hal-hal negatif di kalangan pelajar bisa terjadi akibat pergesaran norma, nilai adat, agama, hingga kepercayaan dalam lingkup kecil. Ini dapat terlihat saat mereka mengabaikan hal-hal tabu dan berani berbuat negatif. Biasanya itu bersumber dari keinginan “gaul” dan dianggap eksis,” ujar Pairulsyah.
Pria yang akrab disapa Bung Pai ini menambahkan, peran orang terdekat lebih dominan dalam menentukan kepribadian remaja. Kendati demikian dalam pergaulan, fungsi orang terdekat itu hanya menanamkan keegoisan dan pola tidak mendidik.
Dalam situasi itu, sambungnya, akan didapat kewajaran dalam melanggar nilai-nilai dan norma yang ada di tengah masyarakat. Akibatnya remaja akan berperilaku antipati terhadap norma sosial yang efeknya tak hanya merusak diri tapi lingkungan sekitar. Maka dari itu peran orang tua dan pembimbing di sekolah sangat penting dalam menanamkan nilai-nilaidan kontrol sikap pada anak.
“Hal-hal negatif di kalangan pelajar bisa terjadi akibat pergesaran norma, nilai adat, agama, hingga kepercayaan dalam lingkup kecil. Ini dapat terlihat saat mereka mengabaikan hal-hal tabu dan berani berbuat negatif. Biasanya itu bersumber dari keinginan “gaul” dan dianggap eksis,” ujar Pairulsyah.
Pria yang akrab disapa Bung Pai ini menambahkan, peran orang terdekat lebih dominan dalam menentukan kepribadian remaja. Kendati demikian dalam pergaulan, fungsi orang terdekat itu hanya menanamkan keegoisan dan pola tidak mendidik.
Oleh
karena itu peran orangtua dan sekolah dalam mendidik harus diperketat
sesuai kebutuhan namun dengan tidak mengucilkan eksistensi siswa di
lingkungannya. Selain pola humanism, pria yang juga dosen sosiologi
FISIP Unila ini meminta pihak sekolah rutin mengadakan razia internal
dan eksternal sekolah. (*)
