LAMPUNGONLINE - Kelas Akting Salihara telah dimulai, Sabtu (10/1/2015). Studio tari Anjung Salihara menjadi ruang kelas selama tiga bulan mendatang. Melalui kelas ini, para peserta akan dikenalkan dengan sistem Stanislavski yang sering dianggap telah kuno, namun tetap berguna pada panggung-panggung teater realis dunia.
Kelas diikuti 20 orang peserta dengan latar belakang yang tak semuanya dekat atau bersinggungan dengan teater. Ada dosen, akuntan, ada pula mahasiswa. Iswadi Pratama yang menjadi pengampu/pembimbing membuka kelas dengan pengenalan tentang teks dan sub teks.
Tentang bagaimana sederet tulisan tersurat dalam naskah, atau di manapun, memiliki sub-sub yang tersirat. Memahami sub teks bisa menjadi jalan untuk mengerti maksud dari pembuat teks yang tercantum dalam naskah atau tercoret di tembok. Lewat sub teks pula kedekatan antara pembaca dengan sebuah karakter pada teks bisa terbangun.
’’Teks dan sub teks adalah bagian penting pada akting,’’ kata Iswadi, seperti dilansir indopos.co.id, Minggu (11/1/2015). Dia menyampaikan materinya dengan gaya santai dan interaktif. Peserta kerap langsung diminta untuk mempraktekkan apa yang tengah di bahas.
Iswadi Pratama adalah Sutradara dan Direktur Artistik 'Teater Satu' Lampung. Lewat penyutradaraannya, Teater Satu mendapat
penghargaan Grup Teater Terbaik dari majalah Tempo pada 2008 dan 2012.
Pada bagian pembahasan tanda baca dan tanda psikologi yang ada pada sebuah teks, Iswadi meminta beberapa peserta untuk langsung melakukannya. Peserta kelas kemudian ditunjukkan pentingnya membaca jeda logis yang ditandai oleh tanda baca, dan jeda psikologis sesuai suratan teks.
’’Stanislavski fokus pada akting psycho-physics, lahir batin,’’ kata Iswadi. Pada dasarnya, sistem Stanislavski meliputi kerja aktor dengan dirinya sendiri (tahap training) dan kerja aktor dengan peran (tahap rehearsal). Kedua tahap itu melibatkan 'tiga instrumen pokok' dalam diri manusia: pikiran, tubuh dan jiwa.
’’Tentu saja, materi yang terdapat dalam tiga kategori tadi pada praktiknya saling berkaitan satu sama lain,’’ terang Iswadi. Kerja keaktoran dapat dipilah menjadi kerja kreatif yang bersumber pada mind center, physical center dan emotion center. Harmonisasi ketiga instrumen itu disebut Stanislavski sebagai 'tiga pemusik'.
Kerja 'tiga pemusik' bertujuan melahirkan akting yang benar: benar secara lahir dan benar secara batin, dalam artian alami. Kelas Akting Salihara akan mempelajari seluruh proses kerja aktor yang bersumber dari ketiga pemusik tersebut:
Kerja Pikiran (round table analysis, imajinasi, satuan dan sasaran, konsentrasi, mengendalikan dan mengekang); Kerja Batin (ingatan emosi, karakterisasi, the magic if ); Kerja Fisik (keliatan gerak, physical score, physical analysis). Iswadi sengaja menjadikan setiap bagian materi kelas dipelajari dan dipraktikkan agar setiap peserta memperoleh pemahaman dan pengalaman yang lebih “terang” mengenai sistem Stanislavski. (*)
Pada bagian pembahasan tanda baca dan tanda psikologi yang ada pada sebuah teks, Iswadi meminta beberapa peserta untuk langsung melakukannya. Peserta kelas kemudian ditunjukkan pentingnya membaca jeda logis yang ditandai oleh tanda baca, dan jeda psikologis sesuai suratan teks.
’’Stanislavski fokus pada akting psycho-physics, lahir batin,’’ kata Iswadi. Pada dasarnya, sistem Stanislavski meliputi kerja aktor dengan dirinya sendiri (tahap training) dan kerja aktor dengan peran (tahap rehearsal). Kedua tahap itu melibatkan 'tiga instrumen pokok' dalam diri manusia: pikiran, tubuh dan jiwa.
’’Tentu saja, materi yang terdapat dalam tiga kategori tadi pada praktiknya saling berkaitan satu sama lain,’’ terang Iswadi. Kerja keaktoran dapat dipilah menjadi kerja kreatif yang bersumber pada mind center, physical center dan emotion center. Harmonisasi ketiga instrumen itu disebut Stanislavski sebagai 'tiga pemusik'.
Kerja 'tiga pemusik' bertujuan melahirkan akting yang benar: benar secara lahir dan benar secara batin, dalam artian alami. Kelas Akting Salihara akan mempelajari seluruh proses kerja aktor yang bersumber dari ketiga pemusik tersebut:
Kerja Pikiran (round table analysis, imajinasi, satuan dan sasaran, konsentrasi, mengendalikan dan mengekang); Kerja Batin (ingatan emosi, karakterisasi, the magic if ); Kerja Fisik (keliatan gerak, physical score, physical analysis). Iswadi sengaja menjadikan setiap bagian materi kelas dipelajari dan dipraktikkan agar setiap peserta memperoleh pemahaman dan pengalaman yang lebih “terang” mengenai sistem Stanislavski. (*)
