![]() |
| Muhammad Nasir |
JAKARTA - Tiga bulan setelah dilantik Presiden Joko Widodo (Jokowi), Menristek Dikti Muhammad Nasir langsung tancap gas. Tidak ingin berlama-lama, M. Nasir siap berinovasi dengan mendorong para peneliti menelurkan riset yang nantinya berdaya guna untuk dunia usaha dan masyarakat luas.
Apa yang kini dikerjakan M. Nasir tentu tak lepas dari arahan presiden Jokowi, untuk melakukan pengembangan teknologi bidang kemaritiman, kedaulatan pangan dan ketahanan energi, yang harus terus ditingkatkan.
Salah satu yang kini sedang dikembangkan mantan Rektor Universitas Diponegoro ini adalah pengembangan teknologi dan riset mengenai DNA. Waktu itu, M. Nasir terinspirasi dari hasil kunjungannya ke laboratorium penelitian DNA di Lembaga Eijkman.
Lembaga yang khusus menangani biologi molekuler ini, merupakan laboratorium riset terhadap penyakit yang berkembang di Indonesia dan dunia. Bahkan, bukan hanya itu, hasil riset di laboratorium ini bisa mengetahui kondisi jenazah yang sudah secara fisik sudah tidak diketahui bentuk dan kondisinya.
“Di sana, Lembaga Eijkman melakukan penelitian atau membantu Kepolisian mengungkap jenazah yang secara fisik sudah tidak diketahui melalui tes DNA," ujar M. Nasir, seperti dilansir Okezone, Selasa (13/1/2015).
Namun demikian untuk memaksimalkan itu, dibutuhkan peralatan dan teknologi yang canggih. Karena apa, memagn perkembangan riset saat ini akan sangat bergantung pada laboratorium yang memiliki peralatan yang mumpuni juga.
"Kalau di ASEAN, itu (Lembaga Eijkman) sudah termasuk peralatan nomor dua, sedangkan Sumber Daya Manusia (SDM) kita nomor satu. Alatnya sudah ada yang lama sekali, ada yang terbaru, sekitar empat tahun, lima tahun, ada yang tujuh tahun, yang lama perlu regenerasi," ungkap M Nasir.
Karena itu, untuk menghasilkan riset yang baik, maka peralatannya juga harus memadai dan canggih. "Nah kalau riset makin maju, tetapi alat ketinggalan, hasilnya juga ketinggalan," tambahnya.
Artinya apa, semakin majunya peralatan atau laboratorium, maka diharapkan semakin maju pula riset teknologi dalam penelitian DNA tersebut. Karena itu, ia meminta kepada Lembaga Eijkman ini, paling tidak melakukan pembaruan terhadap peralatan. “Pemerintah akan support penuh, dengan cara kita harus ubah institusinya supaya menjadi baik. Kalau sudah begitu (membaik) pemerintah mendukung terhadap proses pengembangan ini," jelasnya.
Lebih lanjut M Nasir mengatakan, lembaga riset memiliki peran penting untuk pengembangan teknologi dalam negeri. Dibidang kemaritiman, Menristek akan terus berupaya mendorong pengembangan bioteknologi laut. Dengan begitu, keanekaragaman hayati, kekayaan alam Indonesia di laut bisa dieksploitasi untuk pemanfaatan masyarakat Indonesia. (*)
